October 19, 2011

Mie Aceh




Seperti biasanya, kami sekeluarga mengisi acara akhir pekan dengan jalan-jalan, sekedar melepas penat dan 'silaturahim' pada masyarakat sekitar, atau untuk wisata kuliner...

Malam itu karena situasi dan kondisi perekonomian kelihatan memungkinkan ditambah kurs dollar berada pada nilai tukar yang ideal (wih... ada hubungannya gak ?), akhirnya jalan-jalan akhir pekan itu kami isi dengan wisata kuliner...

Kami berangkat dari rumah, hanya dengan modal niat mau makan-makan, belum tahu mau makan apa dan dimana... Sampai pada saat kami lewat depan ruko yang jual mie aceh, anak-anak bilang, "kita ke mie aceh yuk..."... Tapi entah kenapa, mungkin karena aku lagi gak selera sama mie aceh, aku jawab, "Gak lah, kita makan mie yang biasa aja... kalau malam-malam seperti ini cocoknya mie rebus biasa...", aku coba paksain alasanku...

Kami jalan terus sambil tengok kanan kiri, sampai akhirnya pandangan tertuju pada warung tenda sebelah kanan yang dari tulisan di tendannya, adalah penjual mie... Ya sudah, di putaran terdekat aku putar balik trus aku parkir di depan persis warung itu... Mungkin karna sudah laper, kami berlima langsung masuk ke warung dan pesan, "Pak, mie rebus 5 ya..."

Satu persatu pesanan dihidangkan... tapi... ada sedikit keanehan... aku langsung tanya ke penjualnya, "Ini mie apa pak ?". Pertanyaanku dijawab ringan, "Mie Aceh..."

Kami berlima saling berpandangan,"Hah... ???", sambil tak kuasa menahan tawa...

*Kalau sudah rezekinya penjual mie aceh, mau digimanain juga gak akan lari kemana-mana... hehehe...

Share:

‘Fasilitas’ bagi pengontrak di kawasan ‘elit’







Ini masih cerita sekitar waktu kuliah dulu. Memang agak unik dulu itu, tingkat I kuliah di Jurang Mangu, tingkat II kampus dipindah di Purnawarman deket BLOK M, dan tingkat III-nya balik lagi ke Jurang Mangu... Nah, waktu tingkat II kami berdelapan ngontrak di jalan Cikajang. Kita akan coba mengenang ‘kehebatan‘ anak-anak kontrakan Cikajang waktu itu :).

Kontrakan kita kebetulan dekat dengan tempat hang out yang populer waktu itu : BLOK M. Jadi kalau mau jalan-jalan atau belanja cukup dengan jalan kaki aja. Agak kontradiktif memang, merasa ngontrak di kawasan elit, tapi kemana-mana maunya jalan kaki aja (ngirit booo, hehe). Lain lagi dengan pulangnya, mungkin karena capek akibat muter-muter di BLOK M (sekali lagi: HANYA muter-muter, gak belanja, hehe), kita terpaksa naik kendaraan umum.

Tapi karena prinsip ‘hidup ekonomis‘ selalu menginspirasi anak-anak kos waktu itu -termasuk kita-, maka diusahakan bagaimana caranya biar hemat juga waktu pulangnya. Awalnya, ketika kami naik bis jurusan Blok M - Pulogadung dan sampai kami turun di depan STM Penerbangan, gak diminta bayar juga. Besoknya dicoba lagi dan memang keneknya masih sibuk cari penumpang karena masih termasuk awal-awal pemberangkatan, jadi belum sempet narik karcis.

Menurutku seh, kondisi begini masih belum aman juga, karena kalau memang gak ada penumpang lagi, pasti kenek sudah mulai narik karcis juga, maka perlu tambahan trik lagi. Jadi kalau kenek di depan, kita naiknya di belakang, demikian juga sebaliknya. Hampir bisa dipastikan kita ‘selamat‘ sampai tujuan, hehe. Kalaupun sempet diminta bayar sama keneknya, kita paling hanya bilang, ‘numpang sampai depan aja bang‘,... aman deh, hehehe

Awalnya memang tidak sengaja, tapi lama-lama asyik juga, hehehe

***

@ Buat Pak Sopir dan Kenek : mohon dimaafkan ya bang... :)

Share:

Menu Ala Sarmili

Ini cerita tentang masak-memasak waktu tingkat pertama kuliah dulu.

Kebetulan saya dapat kontrakan di ‘jalan protokol’' Sarmili, lokasinya agak kedalam lumayan jauh, ditambah lagi kalau hujan, yaah biasalah, becek ! Jadi bawaannya males saja kalau mau makan diluar apalagi kalau pas waktu hujan. Alasan ini juga memperkuat ‘kenekatan’ temen-temen untuk ambil keputusan : ‘masak sendiri’ ! Alasan utama adalah ‘tide money policy’ akibat kondisi eksternal (kiriman wesel, red) yang tidak menentu.

Yang paling kelihatan siap untuk ‘proyek’ masak sendiri adalah temen baikku, Mas Ronny Edy Susanto, karena dia satu-satunya yang pakai kaos ‘BANKOM’ yang waktu itu diplesetkan sebagai Bantuan Kompor :).

Meskipun waktu itu kalau kita beli di warteg, selalu pilih menu termurah ‘sego sepalih kalih tempe setunggal (bonus teh pait)’ dengan harga 350 rupiah, tapi tetap saja harus cari cara yang lebih hemat lagi. Dan itu saya rasakan kalau kita masak sendiri. Salah satunya dengan membagi dua mie instan tiap kalau mau masak. Kalau untuk mie nya seh gampang dibagi dua, yang sulit adalah membagi dua bumbu nya, jadi kadang2 karena pembagian bumbunya gak pas, separo yang pertama kepedesen dan separo yang kedua kasinen, hehe

Salah satu kendala yang kita rasakan waktu itu adalah kalau hujan deras, air sumur kontrakan kita keruh banget alias buthek. Saya gak tahu persis kenapa bisa seperti itu, mungkin karena kurang dalam. Tapi kalau hujan gerimis aja seh gak masalah. Sampai suatu ketika pas hujan deras banget dan pada males keluar untuk makan, kita memutuskan untuk masak aja lah. Prosedur masak sudah dijalankan sesuai SOP dan sambil nunggu mateng kita ngobrol-ngobrol sambil terus ngecek jam, soalnya udah pada laper, perut keroncongan, malahan ada yang ndangdutan, hehe.

Pas pada saat yakin sudah mateng, saya lihat nasinya, ternyata bener-bener di luar dugaan, nasi jadi kuning ke coklat-coklatan…. Saya bilang ke temen2, ‘iki ngliwet sego kok dadine sego goreng’. Akhirnya temen-temen gak ada yang berani makan menu baru itu: nasi goreng sarmili, hehe.

Share:

Kotak Pos Terdekat




Kalau kita sms temen kita, ‘Apa khabar?’. Langsung beberapa detik kemudian dibalas, ‘Alhamdulillah, kalau kamu ?’. Trus kita balas lagi, ‘Alhamdulillah juga, tapi masih banyak utang nih… hehe‘. Ini hanyalah dialog fiktif via sms.

Coba bandingkan dengan ini yang terjadi waktu jaman kuliah dulu. Mau nanyain khabar temen aja, mesti nulis surat dulu, trus jawabannya gak bisa cepet, paling tidak seminggu atau dua minggu baru dapat balasannya… Kadang-kadang waktu baca surat balasan, kita sudah lupa, dulu kita nanya apa ya? hehe…

Tapi itu kenyataan bahwa kita pernah hidup pada jaman dimana kita mesti banyak bersabar (ngakunya sabar, padahal dulu kalau nunggu surat balasan, sampai gak bisa tidur... karna kontrakannya banyak nyamuknya ! :D ). Atau barangkali ada diantara kita yang sampai sekarang masih kirim-kiriman surat lewat pos ? Gak papa kok, ngaku saja…

***

Kebetulan dari 10 orang temen kontrakan hanya 2 orang yang dari spesialisasi anggaran, 5 orang dari pajak, sementara yang dari STAN, bea cukai dan PBB masing-masing 1 orang. Sempet mbatin juga seh, ‘wah ngetop-ngetop rek konco-konco kontrakanku…‘.

***

Hari-hari pertama kuliah, temen-temen kontrakan pada rame-rame nulis surat. Mungkin karena masih belum banyak tugas atau sekedar sebagai sarana pelarian akibat trauma MPK (opspek) yang menyita tenaga dan hati (ada yang masih jengkel sama kakak kelas, hehe).

Setelah nulis surat selesai, bukan berarti urusan selesai juga, mesti dibawa ke kantor pos dulu atau kotak pos terdekat lah minimal. Sambil ngobrol2 dengan temen kos, ada yang nanya, ‘Eh ada yang tahu gak kantor pos dimana ?’ Berhubung semuanya orang baru (plus katrok), jadi pada gak ngerti dimana. Tapi ada satu temen yang dengan meyakinkan (mungkin karena merasa tahu duluan), mencoba memberi informasi ke kita-kita, ‘Loh pada gak tahu ya ?, kan ada kotak pos di belakang sana… tadi pagi pas berangkat kuliah, suratku aku masukkan ke situ…‘.

Yang sebelah mana ya…?‘, tanya temen-temen yang masih penasaran. Trus dijawab lagi, ‘Kan di gang belakang ada rumah besar itu lho,  trus ada kotak pos yang nempel di pagar depannya, ya sudah aku masukin saja…‘.

Temen-temen langsung heran,’Haaah, itu kan bis surat yang punya rumah…‘, yang langsung disambut geeerrr temen-temen disitu…. ‘Dah ke sana gih, bilang ke yang punya rumah, terus ambil suratnya, mumpung belum kebaca‘, nasihat temenku yang lain yang sama-sama gak bisa nahan ketawa.

* Tak pikir waktu iku cuma aku yang katrok, ternyata onok tunggale, hehehe…



Share:

SMA dan SMK...



Bagi temen-temen yang punya anak kelas 6 SD, 3 SMP atau 3 SMA, mungkin pernah mengalami waktu-waktu yang menyibukkan untuk cari-cari info sekolah ke jenjang berikutnya.

Waktu itu, anak ke-2 kami, Zahrah, termasuk salah satu dari sekian banyak anak kelas 3 SMP yang sedang harap-harap cemas menunggu kepastian hasil ujian nasional yang sangat menguras pikiran itu. Tidak hanya menunggu kepastian bisa lulus atau tidak, tapi juga berharap mendapatkan nilai yang memuaskan.

Sementara itu, kami juga jauh-jauh hari sebelumnya (bukan jauhari lho…) sudah merasa perlu mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang sekolah jenjang berikutnya itu, sehingga kami sekeluarga harus meluangkan waktu untuk jalan-jalan cari informasi sekolah-sekolah di bogor dan sekitarnya, tak terkecuali ikut serta pula si kecil Ahmad yang waktu itu baru kelas 4 SD.

Mungkin jalan-jalan kala itu sesuatu yang tidak menarik bagi dia (dik Ahmad), disamping memang bukan untuk kepentingan dia, dia sendiri juga masing asing dengan istilah-istilah sekolah: MAN, SMU, SMA, SMK, SMAKBO, dll.

Sepanjang jalan memang pembicaraannya masih di sekitar istilah-istilah tersebut. Sampai akhirnya mungkin karena rasa ingin tahunya, si kecil Ahmad nanya, “SMA itu apa seh?”. Ya kita jawab,”Sekolah Menengah Atas“. Si kecil langsung kasih komentar,”Ooo… berarti kalau SMK, Sekolah Menengah Keatas ya ?”. Tentu saja ini bikin kami ketawa bareng, meski ga tahu jawaban si kecil itu disengaja atau tidak. Terus saya bilang,” Kalau begitu tidak hanya Sekolah Menengah Keatas dik,… tapi bisa juga Sekolah Menengah Kebawah, Kesamping, Kekanan, Kekiri, dan Kemana-mana…“, hehehe.

***

Aah, ada ada saja. Anak-anak memang selalu memberi semangat dalam hidup kita…

Share:

Sepeda Merah dan Biru




Cerita ini ketika ada tetangga yang beli sepeda baru buat anaknya. Kebetulan beli sepedanya dua dengan warna merah dan biru. Namanya juga hidup bertetangga, ada konsekuensi logis lah (wah istilahe keduwuren rek…), si ahmad jadi kepengen dibeliin juga. Sepeda bututnya kebetulan juga sudah kekecilan untuk seukuran dia, jadi ya itung2 upgrade lah (gak cuma komputer rupanya yang diupgrade… hehe)…

Yang jadi kepikiran saya waktu itu bukan masalah belinya, tapi masalah harganya, hehe… Soalnya kalau liat tongkrongannya, dua sepeda yang dibeli tetangga itu bukan sepeda murah…

Maka iseng-iseng saya nanya ke si ahmad (di rumah dipanggilnya : ‘dik Ahmad‘), ‘Memang harganya berapa dik sepeda itu…?‘. Si Ahmad balik nanya ke saya dengan wajah yang serius (mungkin dia pikir, bakalan dibeliin kali…), ‘Yang merah atau yang biru yah …?’ (maksudnya: Ayah). Saya nanya, ‘Yang merah ?‘. Dia jawab, ‘Ga tahu…‘. Saya nanya lagi, ‘Kalau yang biru ?‘. Dia jawab lagi, ‘Ga tahu juga…‘. Langsung aja seluruh keluarga, geeeeerrrrrr…

Saya, ibunya, Inas, dan Zahrah sudah serius mau ngedengerin informasinya, eh ternyata gak tahu. Padahal si Ahmad belum pernah nonton srimulat lho, jadi saya pikir ini masih orisinil, hehehe…

Share:

Nama Baru Cama Cami : LOCOM... !!!

ilustrasi

Hari pertama mahasiswa/i baru dikumpulkan untuk diberi pengarahan betul-betul menjadi hari yang penuh ketegangan. Yang pertama adalah bahwa kita ternyata belum bisa menjadi mahasiswa/i, masih calon !!! Makanya kemudian kita dipanggil ‘cama’ dan ‘cami’, calon mahasiswa dan calon mahasiswi. Untuk bisa menjadi mahasiswa/i, harus melewati dulu masa orientasi MPK (Masa Pengenalan Kampus) yang penuh dengan ‘teror’, dan waktu dikumpulkan pertama kali, saat itu lah ‘teror’ itu dimulai…

Hampir semua cama cami panik, disamping banyak, tugas-tugas yang diberikan juga sangat aneh dan harus selesai pada hari pertama MPK. Tanpa semangat gotong royong, tidak mungkin tugas-tugas itu selesai sesuai target waktu yang ada. Saya ngontrak dengan sembilan temen baru. Dari sinilah saya bersama temen-temen kontrakan memulai ‘petualangan’ ini. Dan satu per satu tugas bisa diselesaikan, meski harus dengan penuh perjuangan. Tapi ada satu tugas yang sampai malam terakhir sebelum hari pertama MPK masih belum selesai : mengartikan nama baru cama cami.

Pada masa MPK memang masing-masing cama cami mendapat satu nama baru. Saya gak tahu nama-nama itu diambil dari istilah bidang apa, yang jelas ada yang namanya : Premium, dll. Namanya juga nasib, dari yang ngontrak disitu yang dapat nama aneh cuma saya : LOCOM… !!!

Hampir semua tugas sudah selesai, bahkan sebagian temen-temen kontrakan sudah bisa nyantai, hanya cek and ricek saja. Ada juga yang masih sibuk dengan tugas yang belum selesai. Sebetulnya saya termasuk yang sebagian besar sudah selesai, tapi nama baru LOCOM itu betul-betul bikin tidak tenang. Sampai pada pagi sebelum berangkat, masih juga belum mendapatkan informasi mengenai arti LOCOM itu, dan dengan bismillah, saya isi sebisa mungkin lah.

Hari pertama MPK, penuh dengan gojlokan, push up, scot jump, dst… Dari mulai karena sepatunya mahal (anak orang kaya), terus cukur rambutnya kependekan (waktu itu harus 1 cm sisanya) dll penyebab yang sebetulnya dicari-cari sama kakak kelas panitia waktu itu. Dan tibalah saat yang menegangkan bagi saya : ditanya satu per satu arti nama baru cama cami …. waduh… ini gara-gara LOCOM itu, jadi gak pede…

Ada yang benar isiannya, ada juga yang salah dan ada juga yang tidak diisi artinya. Tentu yang tidak push up hanya yang menjawab/mengisi benar arti nama barunya. Sementara saya, pasti disuruh push up (dalam hati saya begitu).

Sampailah giliran saya maju, sambil siap-siap untuk push up…

Kakak kelas baca isian jawaban saya, “SEJENIS TEMPE DARI JAWA BARAT … “

Sambil ketawa terpingkal-pingkal dia bilang, “Itu ONCOM goblok, sudah pergi sana…. “

Batinku, “Alhamdulillah gak push up… “

***

Hikmah : Anda harus berbuat sesuatu dengan berbagai kemungkinan resiko… karena kalau tidak berbuat sesuatu, resikonya sudah jelas…

Share:

MojokLesehan Yuuk...

santi sejenak untuk bersemangat lagi



Teman-teman, kesibukan keseharian kita tentu sudah menyita banyak waktu, tenaga dan pikiran kita...

Pojok Lesehan ini hadir hanya sekedar memberi ruang untuk kita bisa melepas kejenuhan... karena kejenuhan bisa menjadi penghambat potensi luar biasa kita...

yang berbagi,
@pojoklesehan



Share: